PPID Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin

Kementerian Pertanian Republik Indonesia

PPID Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin

Dorong Peningkatan Ekspor Porang, Karantina Pertanian Banjarmasin Gelar Diskusi




Banjarmasin (22/6) - Porang kini telah ditetapkan sebagai komoditas super prioritas untuk peningkatan ekspor produk pertanian oleh Kementerian Pertanian.

 
Dalam upaya mendukung pengembangan dan peningkatan ekspor porang tersebut, maka Karantina Pertanian Banjarmasin menggelar diskusi dalam rangka menginventarisasi hambatan dan mencari solusi atas pemenuhan realisasi kuota ekspor porang asal Kalimantan Selatan.
 
Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Dinas Tanaman Pangan & Hortikultura Propinsi Kalimantan Selatan, Dinas Tanaman Pangan & Hortikultura lingkup Kab./Kota serta asosiasi dan petani porang se-Kalimantan Selatan.
 
Dalam sambutannya Kepala Karantina Pertanian Banjarmasin Nur Hartanto mengungkapkan, bahwa pertemuan ini merupakan tindaklanjut dari launching ekspor porang yang digelar pada 12 April 2021 lalu, dimana menurut data sistem otomasi IQFAST Karantina Pertanian Banjarmasin, dari kuota ekspor porang yang direncanakan 100 ton, baru terealisasi sebanyak 10 ton.
 
"Kita semua tentu ingin mengangkat porang asal Kalsel di pasar dunia, karena itu melalui pertemuan ini, kami berharap bisa mengetahui permasalahan apa saja yang membuat ekspor porang dari Kalsel terhambat dan kita bersama-sama mencari solusi atas permalasalahan tersebut." ungkap Nur Hartanto ketika membuka acara tersebut.
 
Joni yang mewakili Asosiasi Petani Porang (ASPEPORIN) Kalimantan Selatan mengungkapkan bahwa kendala terbesar dalam pemenuhan kuota tersebut adalah dari sisi permodalan.
 
"Kami hanya petani bukan pengusaha besar, kelemahan kami pada saat perjanjian dengan buyer tidak didasari dengan kontrak kerja secara tertulis. Pada saat launching ekspor pertama, komitmen ditanggung penuh oleh buyer, namun pada pengiriman berikutnya buyer akan membayar setelah barang sampai di negara tujuan." ungkapnya.
 
"Karena masalah permodalan juga, kami tidak bisa melakukan ekspor langsung dari Kalsel, tapi melalui madiun jawa timur, mengingat buyer meminta pengiriman menggunakan kontainer 40 ft atau setara 20 ton, sementara kesanggupan kami memproduksi porang chip hanya 10 ton. Saya berharap melalui forum ini semoga ada solusi, sehingga sisa kuota bisa diekspor kembali melalui kalsel." Tambahnya.
 
Kepala Dinas Pertanian & Tanaman Pangan Propinsi Kalimantan Selatan yang diwakili oleh Hafrianoor mengatakan bahwa komitmen kami telah memasukkan porang ini dalam renstra anggaran tahun 2022.
 
Sementara itu Kepala BBPP Binuang Yulia berkomitmen bahwa mereka akan mengalokasikan pelatihan bagi petani dalam pengembangan porang ini. "mana Kabupaten/ Kota yang siap untuk penyediaan bibit bagi petani, maka BBPP binuang siap memberikan pelatihan budidaya hingga pengolahan pascapanennya.
 
Menutup pertemuan dan diskusi ini, Nur Hartanto mengungkapkan bahwa kita tidak bisa bekerja sendirian, dibutuhkan kerjasama seluruh stakeholder yang ada, agar pemenuhan permintaan porang bisa dilakukan secara kontinyu.
 
"Kita harus hilangkan ego sektoral antar instansi dan seluruh asosiasi porang, kita harus bahu-membahu untuk memenuhi permintaan eksportir, agar porang Kalsel makin diminati dunia dan petani porang Kalsel bisa sejahtera." tutupnya.